Senin, 22 Juni 2015

Aura : Prolog

Langit malam itu terlihat cerah. Bintang-
gemintang terlihat bercahaya, awan-awan tak
tampak di atas sana. Rembulan seolah
tersenyum ketika kita memandangnya. Semilir
angin berhembus, pelan saja. Daun dan ranting
pohon seolah menari mengikuti arah angin.
Dingin.
Gadis itu terus melangkah di sepanjang trotoar.
Jalanan mulai sepi, karena ya ini sudah hampir
tengah malam. Jarum pendek menunjuk pada
angka sebelas dan jarum panjang menunjuk
angka delapan. Pukul sebelas lewat empat
puluh menit.
Ah, seandainya... Gadis itu mendesah.
Berharap.
Tak lama gadis itu berjalan, kornea matanya
menangkap sesosok tubuh membelakangi
dirinya. Sekitar jarak sepuluh meter di
depannya. Gadis itu memejamkan mata,
mengucek mata dengan kedua tangannya.
Ketika ia kembali melihat ke depan, sosok tadi
sudah tak ada di sana.
Bulu kuduknya mulai berdiri. Ia merasa ngeri.
Dan ketika ia hendak lanjut berjalan, tiba-tiba ia
merasa ada yang menepuk bahu kirinya.
Dengan memejamkan mata, ragu ia menoleh ke
belakang. Pelan-pelan ia membuka matanya.
Dan, astaga.
Nabil.
Sosok tubuh tadi kini ada di hadapannya, ia
mengenali sosok itu. Sosok yang akan menjadi
tokoh sentral dalam seluruh cerita ini.
Tangan kiri sosok (laki-laki) itu menjulurkan
tangan, berusaha menyambut tangan gadis otu.
Sementara tangan kanannya berusaha
menyembunyikan sesuatu di belakang
punggungnya.
Dan, ketika tangan kanan laki-laki itu ia
tampakkan, tangan itu menggenggam sekuntum
Mawar Putih. Itu bunga kesukaanku. Juga
kesukaan gadis itu tentunya.
"Maukah kau,....."
Belum sempat lelaki itu melanjutkan
kalimatnya. Sebuah kilat membuat terang
seluruh kota, awan-awan hitam menggantung di
atas sana, menutupi senyum ikhlas sang
rembulan disusul suara guntur menggelegar di
seantreo kota kami. Kemudian diikuti gemuruh
suara angin, dan terakhi langit mulai
memuntahkan apa yang sejak tadi ia tahan.
Tentara langit.
Mula-mula hanya satu-dua rintik air yang
berjatuhan, sepersekian detik kemudian langit
benar-benar menurunkan seluruh Bala
Tentaran-Nya.
"Aura!"
***
"Aura ayo bangun. Sudah waktunya sarapan.
Cepat nanti kesiangan, ini kan hari pertama
kamu masuk sekolah!" Teriak satu suara di luar
sana.
Ah sial. Bahkan dalam mimpi sekali pun, kau
tak mengatakan kalimat sederhana itu. Kalimat
yang banyak lelaki katakan kepada wanita yang
oa cintai. I Love You. Sederhana saja bukan?
Apa benar pepatah bilang 'Tak ada seaeorang
yang PHP di dunia ini, yang ada hanya kita saja
yang ke-GR-an. Sibuk mendeskripsikan
perasaan sendiri. Terlalu egois dengan
mengatakan bahwa dia juga mencintau kita.'
Ah sudahlah, aku sadar siapa aku. Dan siapa
dia.
Dan. Inilah kisahku

Dy(and)Ra Part II : Hanya aku, Dy dan Oma

Malam itu hujan kembali mengguyur kota kami. Ribuan rintiknya bergemercik di luar sana. Awalnya tidak terlalu deras. Hanya gerimis. Membuat pemandangan di luar sana terlihat indah. Apalagi melihat lampu taman yang terkena rintik hujan. Membuat pantulan yang sangat indah untuk dipandang. Tapi tidak lama kemudian, langit berubah menjadi hitam. Yang awalnya hanya gerimis, kini menjadi hujan yang amat deras.
"Kau sudah mengerjakan tugas Matematika yang diberikan Bu Christ?" Tatapanku beralih pada  buku-buku yang berserakan diatas meja belajar setelah cukup lama memperdebatkan tentang siapa yang paling duluan datang antara hujan atau awan? Begitulah kami, mempetdebatkan hal-hal sepele yang tidak terlalu penting jika kami sedang bersama. Mengisi waktu luang.
"Kau belum mengerjakannya, di?" Tanyanya pura-pura terkejut.
"Belum" jawabku seadanya.
"Astaga. Kau tahu bukan, Bu Chris itu guru killer. Jika kau tidak mengerjakan tugasnya bisa habis kau" dia menirukan gaya killer bu Christ. Guru matematika kami.
"Kau berlebihan sekali. Aku juga tahu. Makannya pinjami aku buku tugasmu. Biar aku nggak diterkam sama guru super killer itu."
"Baiklah. Tapi ingat jangan dijiplak sama persis. Kreatif sedikit, gunakan otakmu sekali-sekali" katanya sambil menyodorkan buku bersampul Hello Kitty kesukaannya.
"Ah. Kau ini namanya juga tugas matematika. Itukan ilmu pasti, ya jelas jawabannya pasti sama". Kelakku tak terima.
"Ya sudah. Terserah kau saja. Kalaupun ketahuan Bu Christ dia jelas pasti tahu siapa yang mencontek..." belum sempat ia melanjutkan kalimatnya aku buru-buru memotong kalimatnya.
"...dan siapa yang memberikan contekkan. Haha" lanjutku sambil tertawa.
"Terserah kau saja. Cepat keluar, aku mau tidur" cemberut. Menyuruhku untuk segera keluar.
"Gak mau aku temenin? Di luar hujan gede lho? Kamu kan suka takut?" Godaku.
"Keluar!!!" Teriaknya, dilanjutkan melemparkan bantal ke arahku. Dia sangat takut sekali akan hujan, semenjak kejadian itu. Kejadian yang menyakitkan bagi kami.
"Iya deh iya. Aku cuma becanda kok". Aku melangkah keluar, menutup pintu kamar Dyandra.
Di luar hujan masih cukup deras. Ketika melewati ruang tengah, aku mendapati Oma sedang melamun sendiri. Duduk di kursi goyang kesayangannya. 
"Oma? Sedang apa kau di situ? Sendirian?" Tanyaku. Berjalan mendekatinya.
"Ah, di. Tidak sayang. Oma hanya sedang bersantai saja" jawabnya. Aku melihat ada yang di sembunyikan dari Oma. Aku melihat sebuah kebohongan dari sorot mata dan juga kalimatnya yang seakan dibuat-buat.
"Oma tidak berbohong, kan?" selidikku.
"Kau tak percaya kepada Oma, sayang?"
"Tidak biasanya Oma duduk sendirian. Melamun?" tanyaku lagi. Sekarang aku sudah duduk di sofa dekat tempat kursi goyang yang diduduki Oma.
"Apa Oma terlihat aneh?" tanya Oma meyakinkanku bahwa tidak terjadi apa-apa dengannya.
"Tidak juga. Tapi..." aku berhenti melanjutkan kalimatku. Aku takut menyinggung perasaan Oma.
"Tapi apa sayang?" potong Oma.
"Ah, tidak Oma" tukasku.
"Katakan saja sayang"
Aku diam. Ragu untuk berkata. Bertanya.
"Tidak, Oma. Hanya saja aku melihat Oma berbeda malam ini. Oma sedang bersedih?" Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Bersedih? Apakah Oma terlihat bersedih?" Oma mengusap mata dengan jarinya.
"Begitulah" jawabku seadanya.
"Mendekatlah sayang" pinta Oma kepadaku. Aku mendekatinya. Membalikkan sofa agar menghadap kepada Oma. Kemudian aku duduk.
"Kau selalu tahu kalau ada yang beda dari orang di sekitarmu." Kata Oma "Begini. Kau tahu apa artinya kehilangan?" Tanya Oma. Aku menggeleng. Sebagai tanda jawaban. Tidak tahu, Oma. 
Itukan pertanyaan Oma 10 tahun lalu. Ketika umurku masih 6 tahun.
"Oma takut kehilangan kamu kalian, sayang. Kehilangan kamu. Kehilangan Dyandra" Oma menatapku. Satu bulir air, keluar dari kelopak matanya. Kemudian mengalir melewati pipi, hingga ke dagu. Kemudian jatuh. Menetes pada mantel yang dipakainya.
"Kenapa Oma berkata seperti itu? Aku tidak akan meninggalkan Oma. Begitupun Dyandra." Kataku.
"Tidak sayang. Kau akan pergi, begitupun Dyandra. Kalian akan melanjutkan sekolah bukan? Kalian tidak akan hanya diam disini setelah lulus sekolah. Kalian harus menggapai cita-cita kalian." Kata Oma. Masih menangis.
"Iya Oma. Aku tahu. Tapi aku dan Dyandra tidak akan meninggalkan Oma. Aku janji Oma." Kataku
"Dalam sebuah pilihan, terkadang kau harus egois sayang. Tidak memikirkan orang lain." Oma menyeka air matanya.
"Tapi kau bukan orang lain, kau Nenekku. Oma" kataku.
"Iya, sayang. Aku tahu tapi Kau harus berani mengambil keputusan. Berani meninggalkan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu." Kata Oma mantap.
Hujan di luar masih saja deras. Angin dan guntur juga masih setia menemani malam itu. Menemani percakapan kami. Aku dan Oma.
***

Dy(and)Ra: Awal dari Sebuah Akhir

"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanyaku, tatkala semua orang mulai membubarkan diri.
"Maksudmu?"
"Maksudku? Kau pura-pura tidak mengerti atau kau masih enggan untuk mengakuinya?"
"Aku tak paham!"
"Apa sekarang Kau menyesal?"
"Menyesal untuk apa?"
"Ya untuk semua ini. Untuk kematian Dy?"
"Apa maksudmu?"
"Kau masih juga bertanya apa maksudku?" aku kesal.
"Bukan aku kan yang membunuhnya, kan?"
"Kau! Kau memang bukan pembunuhnya. Tapi kau salah satu penyebab kematiannya!"
"Aku tak mengerti"
"Astaga. Kau masih juga belum mengerti?"
Dia hanya menggelengkan kepala. Menatap batu nisan di depannya.
"Sekali lagi aku bertanya. Apa sekarang kau menyesal?"
"Entahlah"
"Apa kau menyesal? Menjadi seorang pengecut. Hanya memendam perasaan itu dalam hatimu saja. Tanpa berani mengungkapkannya pada Dy. Bahkan pada detik terakhir kehidupannya kau tak juga mengatakannya? Ayolah akui saja kawan. Kau juga memendam rasa yang sama dengannya bukan? Kau juga sudah tahu bukan? Dy mencintaimu. Dy mengharapkanmu"
Dia hanya diam. Terpaku, tanpa bisa berkata apapun.
Aku menghela napas panjang.
Mengatur hembusan napas dan detak jantung yang tak beraturan. Juga emosiku yang tak bisa ku kontrol.
Aku menghembuskan napas secara perlahan.
***
Gerimis mulai menjajah kota kami.
Satu-persatu rintik hujan mulai berjatuhan. Mematuk tanah merah yang diselimuti rumput hijau.
Perlahan aku berjalan menjauhi sahabatku yang kini berada dekat sekali dengan sosok wanita yang selama ini dia cintai. Meski tak pernah dia mengatakan ataupun mengakuinya. Bahkan pada dirinya sendiri. Hingga saat ini, sosok wanita itu telah menjelma menjadi sebuah batu nisan. Ia tak pernah mau mengakuinya. Setidaknya mengakui perasaannya kepadaku. Wanita itu kini telah berada di tempat peristirahatan terakhirnya. Tempat paling indah.
Aku membiarkan dia sendirian di sana. Membiarkan dia menangisi penyesalan karena tak mampu mengungkapkan perasaan itu. Dia memelu erat batu nisan itu. Semua orang telah meninggalkan perkuburan itu. Kini hanya ada sosok sahabatku di sana. Setelah memandang sekilas wajahnya dari kejauhan, aku bisa menebak ada kesedihan yang mendalam dari dirinya. Kulihat itu dari garis wajahnya. Setelah merasa cukup, aku langsung meninggalkan perkuburan itu. Tempat peristirahatan terakhir bagi wanita itu. Juga tempat yang menjadi awal bagian dari seluruh kisah ini.
Aku memacu mobil cukup kencang, menerobos derasnya hujan yang disertai angin ribut di luar sana.
Sesampainya di rumah aku bergegas menuju kamar, kemudian merebahkan tubuhku di kasur. Aku menatap lekat langit-langit kamar. Pikiranku melayang entah kemana, di sana muncul bayangan-bayangan masa lalu itu. Sebuah tontonan yang entah darimana datangnya, tanpa aku minta mereka bergerak begitu saja. Layaknya sebuah infocus yang sedang memutar film.
Berawal dari kejadian tragis malam itu--malam yang merenggut nyawa seseorang yang amat special dalam kisah ini. Awal pertemuanku dengan sahabatku, hingga awal mula perasaan ganjil itu muncul dalam hatiku. Dalam hidupku.
Hujan semakin deras di luar sana.
***
"Kau sudah bangun, di?"
"Sudah, Oma" Kujawab pelan. Mengucek mata.
Hujan mulai mereda du luar sana. Hujan. Ya dia amat menyukai hujan, terlebih setelah dia mengenal pria itu. Biasanya ketika gerimis seperti ini dia selalu datang menemuiku, mengajakku bermain -- menikmati guyuran hujan. Kemudian dia melanjutkan bercerita yang ceritanya sudah persis aku hafal. Cerita tentang itu-itu saja. Cerita tentang orang yang sama. Seperti radio butut yang terus-menerus diputar .
Tapi itu dulu, sekarang tak mungkin dia datang kemari. Mengetuk pintu kamarku, kemudian menarik tanganku dan berlarian di halaman depan rumah. Seperti anak kecil saja.
Sekali lagi kubilang, itu dulu.
Gadis itu bernama Dyandra. Tapi dia sering dipanggil Dyan oleh kebanyakan temannya. Tapi aku lebih senang memanggilnya dengan sebutan Dy, saja. Karena panggilan Dy bagi lebih enak diucapkan, lebih enak didengar, lebih simple dan juga lebih,... ah pokoknya aku lebih senang dengan memanggilnya seperti itu. Selain karena alasan itu, aku juga mempunyai alasan lain. Alasan yang istimewa menurutku, ya karena nama panggilan itu terdengat sama dengan nama panggilanku, di. Dinar.
Dy untuk Dyandra dan Di untuk Dinar.
Aku mengenal Dyandra semenjak aku masih kecil. Sejak bayi mungkin, atau masih dalam kandungan. Sejak kecil kami selalu bermain bersama, melakukan hal apapun bersama. Berdua saja. Sebelum pada akhirnya aku mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.
Rumah keluarga kami berdekatan, orangtua kami adalah seorang pebisnis. Mereka bekerjasama dalam membangun bisnis yang sudah dirintis Opa sejak dulu. Opa meninggal kecelakaan mobil ketika dalam perjalanan pulang setelah ada pertemuan dengan kolega bisnisnya. Meninggalkan Oma sendirian. 
Dimulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas kami selalu ada dalam satu sekolah. Kenapa ketika dibangku kuliah kami tidak berbarengan? Ya karena tadi dia berubah setelah kejadian itu. Kejadian yang mengubah semuanya. Kejadian yang nanti jika sudah waktunya aku akan ceritakan.
Seperti yang sudah kukatakan dia berubah semenjak hari itu. Hari dimana perasaan ganjil itu muncul begitu saja dalam hatiku. Tanpa aku inginkan. Saat itu aku belum bisa menyimpulkan perasaan itu. Aku tak tahu harus bagaiman mendeskripsikan perasaan itu. Dia berubah. Itu yang bisa aku simpulkan. Atau mungkin aku yang berubah. Entahlah
Kami memang masih selalu bersama, tapi waktu kebersamaan kami tersita banyak setelah kedatangan seseorang. Seseorang yang mengubah seluruh isi cerita ini. Cerita yang berbelok 180 derajat dari yang sebenarnya aku inginkan.
Ya dari sinilah kisah awal dari sebuah akhir dimulai.

Dua Bocah di Bawah Pohon Oak

"Cinta. Aku tak tahu bagaimana ia bermula yang aku tahu ia mengalir begitu saja, hingga aku merasakan sesuatu yang berbeda darinya. Seperti kisah ini, kisah Kita. Entah bagaimana mulainya tapi yang pasti saat ini aku ingin selalu bergandengan tangan denganmu menyongsong masa depan gemilang dan berharap takdir Tuhan berpihak pada Kita"
***
1990
"Kau masih ingat dengan pohon oak itu? yang diantara batangnya yang kekar terpilin kuat sebuah tambang dengan kayu dibawahnya. Ya ayunan tua."
Pertemuan itu terjadi lewat tatapan dua pasang mata anak kecil berusia lima tahun. Di sebuah musim panas, yang dimana langit cerah tanpa awan dan angin berhembus dengan hangatnya.
Anak lelaki itu selalu menhgabiskan waktunya dengan menyendiri di bawah pohon oak, memainkan mainan robot pemberian ayahnya ketika dia brulang tahun yag kelima. Dua bulan lalu. Sang ayah juga membuatkan sebuah ayunan kayu yang terikat kuat diantara batang pohon oak tersebut.
Anak lelaki itu gemar duduk di sana. Memainkan mainan robot miliknya, ia kerap berbicara sendiri tanpa teman, menirukan suara bagaimana robot miliknya sedang dalam medan perang. Selalu seperti itu Sendirian.
Ia tak mempunyai saudara kandung ataupun saudara angkat, ia anak satu-satunya dari pasangan muda yang baru saja menikah enam tahun lalu. Awalnya mereka tinggal di rumah orang tua lelaki, tapi kemudian memutuskan pindah ke rumah itu. Anak lelaki itu selalu bermain sendirian, tanpa teman. Selain sang ayah yang selalu berangkat pagi untuk bekerja di sebuah toko, sang ibu juga sibuk mengurusi rumah sendirian. Jarang sekali ada waktu untuk menemani anaknya. Kecuali jika ada acara-acara tertentu. Ketika acara natal ataupun perayaan lain. Atau ketika orang tua anak lelak itu mengajak ke rumah kerabat mereka. Barulah anak lelaki itu bisa bermain dengan sepupu sebayanya. Tapi itu tak membuat ia senang, ia lebih senang menyendiri. Baginya teman adalah seseorang yang mampu mengerti perasaannya, seseorang yang benar-benar bisa satu fikiran dengannya. Sayangnya dia belum meneukannya hingga saat itu.
Pagi itu, ketika pertemuan itu terjadi. Di musim panas yang sama, si anak lelaki melihat sebuah mobil berwarna hitam dengan bak terbuka yang di penuhi barang-barang, berhenti tepat di sebelah rumahnya.
Rumah yang sudah sekitar lima tahun tak berpenghuni, entah kemana perginya penghuni rumah tersebut. Banyak orang bilang penghuni rumah itu dulunya terkena tipu oleh temannya sendiri, segala kekayaannya habis. Hingga akhirnya pemilik rumah itu menjual rumah tersebut. Rumah berdinding kayu yang kini terlihat tua, dengan cat yang sudah pudar dan tangga masuk yang mulai keropos.
Seorang lelaki berusia tiga puluhan keluar dari mobil tersebut, diikuti wanita anggun yang kini sudah berada di sampingnya. Mereka menatap rumah itu sejenak kemudian menyuruh dua orang --mungkin pekerjanya untuk menurunkan barang-barang dan memasukannya ke dalam rumah tersebut.
Wanita itu kembali menghampiri mobil, menatap sejenak -- seolah sedang berbicara melalui tatapan mata-- ke dalam mobil melalui jendela. Tersenyum. Saat itulah, ketika wanita itu mengulurkan kedua tangannyanya. Dan menggendong seorang anak perempuan. Saat itulah tatapan keduanya beradu--si anak peremluan terlihat malu-malu. Dan mungkin saat itulah kisah anak lelaki penyendiri dan si anak perempuan pemalu bermula.
**
Rasanya tidak mungkin keduan anak tersebut bisa berteman, karena ketika si anak lelaki sedang asyik memainkan mainan robot di tangannya, si anak perempuan dengan boneka barbie di tangannya malu-malu menghampiri si anak lelaki. Mereka berdua duduk bersebelahan. Sibuk memainkan mainanya masing-masing. Tanpa interaksi. Tak muungkin si anak lelaki memainkan boneka barbie, selain yang dia punya hanya mainan robot itu, tak mungkin juga ia merengek pada ayahnya untuk dibelikan boneka barbie hanya untuk bermain dengan si anak perempuan. Begitupun sebaliknya, si anak perempuan tak mempunyai mainan robot dan tak suka juga adegan perang-perangan. Walaupun tanpa interaksi secara langsung, mereka berdua tampak senang dengan dunianya masing-masing. Ya karena begitulah seharusnya pertemanan, seseorang tak perlu menyenangi apa yang disenangi seorang lainnya. Mereka mulai bisa saling berinteraksi, saling berbagi dan mengisi.
Ternyata mereka benar-benar bisa berteman. Pertemanan yang sederhana.
*Bersambung

Jumat, 16 Maret 2012

Masa Putih Biru

 
                                                               Karya : Dede Sulaeman
Masa SMP adlah masa-masa paling kompleks . Di SMP thu mulai dari cinta-cintaan , bandel-bandelnya , di hukum guru , sampe belajar sungguh-sungguh sebelum UAN itu menurut saya adalah masa-masa paling asyik . Yah! SMP thu masa dimana kita masih labil-labilnya . Dibilang anak-anak gak mau , dibilang dewasa juga belum.  Udah labil , unyu , galau dan eksis ! Asyyiekk !.
Nah kelebihan itu aku tuangkan dalam sebuah karya . Tentang , cinta , persahabatan , kebandelan, dan perjuangan belajar disatukan dalam sebuah karya yng berjudul   “Masa Putih Biru”.
Sebenarnya aku termasuk anak pendiam dan baik hati , tidaak sombong , suka memberi,rajin belajar,alim banget  dehh. ( jangan dipercaya hehehe....) . Tapi , ada saatnya aku bisa jail luar biasa . Aku ingat betul kejadiannya waktu di kelas . Disiang yang panas , seekor ulat gueedddee.. dengan bulu yang lebat tiba-tiba menampakkan diri di lantai kelas. Salah seorang teman cewek segera mengambil ulat itu lalu diberikan kepada Lani , yang ternyata Lani jijik sama ulat dan langsung berteriak . Melihat kelakuan Lani timbulah ide jailku. Tanpa basa-basi , aku ambil tuhh ulat dari lantai , lalu aku berikan kepada Lani , Lani berteriak ketakutan , lalu aku bertikan lagi kepada teman-teman yaang blain yang ternyata mereka juga jijik , Kelas Heboh.
Matahari kembali menunjukan keperkasaannya hari ini. Setelah mendung dan hujan berhari-hari, sekarang mentari membuat peluh semua orang menetes dengan deras di sekujurb tubuh.Panas siang ini memang sampai menyedot energi . Hingga dengan suasana yng panas masalah sedikit saja dapat membuat hati juga langsung menyala panas. Suasana ramai dan tenag di kelasku tiba-tiba menjadi kacau , ketika terjadi keributaan antara Hendri dn Taufik , hanya gara-gara lelucon kecil , Dani melerai mereka berdua , tapi bukan damai yang di dapat , malah suasana bertambah kacau . Gara-gara Hendri dan Taufik tidak menuruti perkataan Dani . Setelah bebrapa saat suasana mulai mereda . Namun Hendri bawel , terus berbicara pelan , karena meras kesal dan merasa tidaak dihormati , Dani pun marah pada Hendri dan mencetuskan kata-kata kasr dengan suaaraa beratnya . ‘Heh ... Dri loe biasa diem gak ? hargaai gue disini , semua orang di sekolah takut samaa gue !’.
Hendri hanya terdiam , dan membuat Dani semakin memanas dan kesal karewna kelakuan , dan merasa tidak dihargaai dan tidak didengarkan perkataannya . Dani memukul Hendri dan menendang meja belajar yang ada di depannya . Hendri masih tetap terdiam , tidak melawan dengan ekspresinya yang tegaang . Dani langsung menarik kerah baju Hendri dengan tangan kirinya , sedangkan tangan kanannya mengepal siap untuk memukul . Aku berusaha melerainya namun taak bisaa .        “Loe berani samaa gue ?”.   tantangnya. Sembari meludahi wajah Hendri , namun air ludaahnya tidak mengenai Hendri , melainkan mengenai tepat di waajaahku .
“Heyyy.. kalian bisa diaam gak sihh? Inget disini kita tuh sodar , satu keluarga satu kelas , kita harus bisa menjagaa kekompakan dalam segala hal , , dan kalu mau nyelesain masalah bukan kaya gini caranya !!” teriak Lani dengan kencang sembari menangis melihat kejadian itu . Setelah mendengar penuturan kalimat Lani , suasana di kelas mendadak menjadi hening , semua terdiam , ada yang menangis . Suasana menjadi tenang dan kembali melanjutkan beljar.
“kriiiing ... kriiiing ..” bel pulang berbunyi . Aku pulang bersama Rudi.
Rudi adalah sahabatku dari kelas 7 , aku pertama mengenalnya waktu mengikuti  Organisasi di sekolahku , yaitu Osis . Perkenalan yang singkat itu membuahkan sebuah Persahabataan yang sejati , waktu kelas 8 aku satu kelas dengannya , namun pas semester 2 dia di pindahkaan ke kelas yang lain . Dan sekarang aku kembali satu kelas dengannya . Rudi orangnya baik , bawel , jail juga , dan dia mempunyai selera humoris yang tinggi , sama sepertiku .
Sedang asyikknya berjalan , tiba-tiba aku bertemu dengan Marina , yaitu mantan pacarku , aku putus sama dia gara-gara katanya sih dianya mau focus dulu belajar , kata orang tuanya . TApi entahlah itu bener atau bohong , karena aku denger sekarang dia udah punya pacar lagi. Ya inilah cinta cinta di SMP , menginjak masa SMP waktu aku mulai masuk pada masa remaja, dimana rasa ingin tahu hal-hal baru, yang terus menggebu-gebu, pada masa SMP, para anak-anak pun mulai merasakan rasa suka terhadap lawan jenis, meskipun malu-malu untuk mengakuinya , yang selalu disebut cinta monyet .ya cinta yang datang hanya karna perasaan suka, belum melibatkan naluri dan hati… saat pacar menghilang, tidak jadi beban karna cinta yang dirasakan hanya sekedar suka…
Aku hanya tersenyum kala bertemu Marina begitupun dia .
Siangf yang begitu melelahkan , aku pulang ke rumah darisekolah . Aku ingin sekali minum sepuasnya , kerongkonganku sangat kering sejak pagi tadi aku berteriak-teriak di kelas , belum lagi ditambah perkelahian antara Dani , Taufik , dan Hendri .Pusing rasanya . Ketika memasuki rumah keadaan bertambah kacau , saat ibu yang biasanya sudah masak , tapi kali ini tidak ada ditempat . Aku langsung pergi ke kamar , sebelum masuk ke dalam kamar , aku melihat ibuku sedang bermunajat kepada Robbnya ,kini terdiam lagi .bisikan-bisikan yang ia persembahkan sebagai do’atulus pada illahi , ia haturkan dalam untaian kalimat yang indah bermakna . Dan sebagaipenutup , ia ucapkan sebuah kalimat yang mewakili semua do’a . “Robbana atina fiddunya khasanah wafil akhiroti khasanah wa qina adzabannar”. Kemudian saudaraku dating membawa makanan , dan kami makan bersama .
Keesokan harinya aku terbangun dari mimpiku , sinar matahari yang masuk melalui celah jendela terasa menyilaukan . Mataku terasa pedih , dan aku bergegas melaksanakan kewajibanku , dan langsung pergi sekolah .
Dalam tiga bulan sebelum UAN ini aku harus berangkat lebih awal , untuk mengikuti pemantapan . Dan hari ini adalah hari terakhir sekolah mengadakan pemantapan , sebelum dimulainya ujian praktik yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi .
Aku kali ini datang tidak terlambat , tapi di kelas hanya baru dating beberapa orang saja , hari ini aku harus bersungguh-sungguh untuk belajar , karena hari ini kemungkinan terakhir belajar di kelas , tapi syukurlah kata wali kelasku ada dua hari lagi untuk kemungkinan belajar di kelas . Tapi bagi anak-anak yang tidak terlalu focus terhadap belajar , mereka hanya santai saja , mereka berangkat dari rumah ke sekolah hanya bermain-main saja . Dan waktu belajar juga dipergunakan hanya untuk nongkrong di WC, dan waktu pulang pun bukan dipergunakan untuk belajar melainkan hanya untuk bermain-main , nongkrong di jalan , bahkan ada yang tawuran , bermusuhan dengan sekolah lain .Membahas anak sekolah yang suka menongkrong di jalan ,aku jadi teringat satu kejadian , yaitu waktu setelah pulang ujian praktik penjas , yaitu renang . Aku ingat sekali kejadiannya , waktu itu aku dan teman-temanku yakni Rudi , Dani , Rika , Ani , Fuji dan Rais pulang renang, naik angkutan umum , sedangkan anak-anak yang lain mereka sudah pulang terlebih dahulu , naik motor , Di tengah perjalanan pulang , di pas perempatan tiba-tiba mobil mendadak membalik arah yang lain . ‘Eh .. kita mau kemana nihh ?’ tanyakku . ‘Tuuh mau nganterin dulu si Rika ‘ jawab salah satu temanku . Mobil terus melaju , ketika hamper sampai tujuan , sebelum Rika sempat turun mendadak di belakang adabeberapaorang yang mengenakan baju putih biru , aku tak tahu itu siapa , mungkin itu anak sekolah lain  . Tiba-tiba salah seorang dari mereka , menarik bajuku dengan tangan kanannya melalui jendela yang sedikit terbuka sambil berkata ‘Heh .., apa lloe ..turun sini ? ‘ mereka terus mengikuti mobil yang aku naiki , karena kesal sang supir memberhentikan mobilnya dan orang yang disampingnya berkata “Heh ..mau ngapain sihh lloe ..?’. “Ekkh .. kami mah ke anak-anak sekolahnya dda ..”. jawabnya .
Supir menancap gas dean mobil pun melaju ,  . “dasar udah tahu kita ini satu Negara , mau pada ngapain coba .?’ Ujar Rudi .  “ekhh kenapa kamu diem aja tadi ?” tanyaku pada Dani .”Ah ggak ah males , capek nni “ jawabnya .”Iyya .. udah tadi disekolah lari=larian , di tambah renang “kata Rudi . “ eh tapi tadi kalau misalnya mereka nyerang , kamu pasti turun ?” tanyaku lagi pada Dani . “Ya .., pastilah ! “.jawabnya . “Emangnya mau apa kalian diinjek-injek sama mereka , “ ujar Rais . “iya atuh , mereka Cuma berani di kandangnya aja “ . ujar Dani .
“ihh ,, ngapain sihh anak=anak itu , bukannya belajar, malah nongkrong dan rebut gak karuan , itu mah bukan pelajar dong namanya “Ujar Ani . “iya , kaya gak berpendidikan aja “ seru Fuji .
“hahahaha…………” semua tertawa .Itulah kelakuan kebanyakan anak-anak jaman sekarang , bukannya belajar tapi malah ngajak ribut sekolah lain .
Di kelas IX-aaku banyak mendapatkan pembelajaran yang tak ternilai harganya . dari sebuah kebersamaan , saling percaya , kekompakan , sahabat yang tulus ,canda tawa , pokoknya banyak ddeh .. meskipun selalu ada sedikit permasalahan tapi kamibisa menyelesaikannya dengan cukup baik . Di kelas IX-a juga banyak macam karakter dari yang pendiem , baik , sampe jail , dan bawelpu  ada . Thank IX-a.
Tinggalmenghitung hari lagi kita akan berpisah teman-teman , tak ingin rasanya ku berpisah dengan kalian , tapi  ini semua harus terjadi , karena ini juga demi masa depan kita .Gak rela tinggalin semua masa-masa yang pernah kita lalui bersama . Mungkin semuanya hanya akan menjadi kenangan yang gak akan terlupakan , bagiku . Sumpah sangat berat bila ingin berpisah sama kalian , namun inilah saat-saat yang kita tunggu , untuk menuju masa depan masing-masing , yaitu meninggalkan masa putih biru dan memulai dengan masa putih abu-abu . ,tapi gak rela juga mau meninggalkan masa putih biru ini  yang penuh dengan pengalaman , hanya ucap maaf dan terima kasih yang bisa ku berikan kepada kalian , maaf bila, selama ini aku punya banyak salah sama kalian , dan terima kasih karena selama ini kalian sudah mau berteman dengan ku , dan baik terhadapku . Aku janji tidak akan masa putih biru ini , dan tidak akan melupakan kalian , aku akan tetap menjadi teman kalian , walaupun mungkin kita tidak satu sekolah lagi ,.tapi satu pesanku , ‘JANGAN PERNAH MELUPAKAN TEMAN LAMAMU JIKA SUATU SAAT KALAIN MENDAPATKAN TEMAN YANG BARU !’. aku berharap kita masih bisa bertemu dengan mengenakan seragam putih abu .  AMIN ….
I LOVE YOU ALL .


Sekian