"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanyaku, tatkala semua orang mulai membubarkan diri.
"Maksudmu?"
"Maksudku? Kau pura-pura tidak mengerti atau kau masih enggan untuk mengakuinya?"
"Aku tak paham!"
"Apa sekarang Kau menyesal?"
"Menyesal untuk apa?"
"Ya untuk semua ini. Untuk kematian Dy?"
"Apa maksudmu?"
"Apa maksudmu?"
"Kau masih juga bertanya apa maksudku?" aku kesal.
"Bukan aku kan yang membunuhnya, kan?"
"Kau! Kau memang bukan pembunuhnya. Tapi kau salah satu penyebab kematiannya!"
"Aku tak mengerti"
"Aku tak mengerti"
"Astaga. Kau masih juga belum mengerti?"
Dia hanya menggelengkan kepala. Menatap batu nisan di depannya.
"Sekali lagi aku bertanya. Apa sekarang kau menyesal?"
"Entahlah"
"Apa kau menyesal? Menjadi seorang pengecut. Hanya memendam perasaan itu dalam hatimu saja. Tanpa berani mengungkapkannya pada Dy. Bahkan pada detik terakhir kehidupannya kau tak juga mengatakannya? Ayolah akui saja kawan. Kau juga memendam rasa yang sama dengannya bukan? Kau juga sudah tahu bukan? Dy mencintaimu. Dy mengharapkanmu"
Dia hanya diam. Terpaku, tanpa bisa berkata apapun.
Aku menghela napas panjang.
Mengatur hembusan napas dan detak jantung yang tak beraturan. Juga emosiku yang tak bisa ku kontrol.
Aku menghembuskan napas secara perlahan.
***
Gerimis mulai menjajah kota kami.
Satu-persatu rintik hujan mulai berjatuhan. Mematuk tanah merah yang diselimuti rumput hijau.
Perlahan aku berjalan menjauhi sahabatku yang kini berada dekat sekali dengan sosok wanita yang selama ini dia cintai. Meski tak pernah dia mengatakan ataupun mengakuinya. Bahkan pada dirinya sendiri. Hingga saat ini, sosok wanita itu telah menjelma menjadi sebuah batu nisan. Ia tak pernah mau mengakuinya. Setidaknya mengakui perasaannya kepadaku. Wanita itu kini telah berada di tempat peristirahatan terakhirnya. Tempat paling indah.
Aku membiarkan dia sendirian di sana. Membiarkan dia menangisi penyesalan karena tak mampu mengungkapkan perasaan itu. Dia memelu erat batu nisan itu. Semua orang telah meninggalkan perkuburan itu. Kini hanya ada sosok sahabatku di sana. Setelah memandang sekilas wajahnya dari kejauhan, aku bisa menebak ada kesedihan yang mendalam dari dirinya. Kulihat itu dari garis wajahnya. Setelah merasa cukup, aku langsung meninggalkan perkuburan itu. Tempat peristirahatan terakhir bagi wanita itu. Juga tempat yang menjadi awal bagian dari seluruh kisah ini.
Aku memacu mobil cukup kencang, menerobos derasnya hujan yang disertai angin ribut di luar sana.
Sesampainya di rumah aku bergegas menuju kamar, kemudian merebahkan tubuhku di kasur. Aku menatap lekat langit-langit kamar. Pikiranku melayang entah kemana, di sana muncul bayangan-bayangan masa lalu itu. Sebuah tontonan yang entah darimana datangnya, tanpa aku minta mereka bergerak begitu saja. Layaknya sebuah infocus yang sedang memutar film.
Berawal dari kejadian tragis malam itu--malam yang merenggut nyawa seseorang yang amat special dalam kisah ini. Awal pertemuanku dengan sahabatku, hingga awal mula perasaan ganjil itu muncul dalam hatiku. Dalam hidupku.
Hujan semakin deras di luar sana.
***
"Kau sudah bangun, di?"
"Sudah, Oma" Kujawab pelan. Mengucek mata.
Hujan mulai mereda du luar sana. Hujan. Ya dia amat menyukai hujan, terlebih setelah dia mengenal pria itu. Biasanya ketika gerimis seperti ini dia selalu datang menemuiku, mengajakku bermain -- menikmati guyuran hujan. Kemudian dia melanjutkan bercerita yang ceritanya sudah persis aku hafal. Cerita tentang itu-itu saja. Cerita tentang orang yang sama. Seperti radio butut yang terus-menerus diputar .
Tapi itu dulu, sekarang tak mungkin dia datang kemari. Mengetuk pintu kamarku, kemudian menarik tanganku dan berlarian di halaman depan rumah. Seperti anak kecil saja.
Sekali lagi kubilang, itu dulu.
Gadis itu bernama Dyandra. Tapi dia sering dipanggil Dyan oleh kebanyakan temannya. Tapi aku lebih senang memanggilnya dengan sebutan Dy, saja. Karena panggilan Dy bagi lebih enak diucapkan, lebih enak didengar, lebih simple dan juga lebih,... ah pokoknya aku lebih senang dengan memanggilnya seperti itu. Selain karena alasan itu, aku juga mempunyai alasan lain. Alasan yang istimewa menurutku, ya karena nama panggilan itu terdengat sama dengan nama panggilanku, di. Dinar.
Dy untuk Dyandra dan Di untuk Dinar.
Aku mengenal Dyandra semenjak aku masih kecil. Sejak bayi mungkin, atau masih dalam kandungan. Sejak kecil kami selalu bermain bersama, melakukan hal apapun bersama. Berdua saja. Sebelum pada akhirnya aku mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.
Rumah keluarga kami berdekatan, orangtua kami adalah seorang pebisnis. Mereka bekerjasama dalam membangun bisnis yang sudah dirintis Opa sejak dulu. Opa meninggal kecelakaan mobil ketika dalam perjalanan pulang setelah ada pertemuan dengan kolega bisnisnya. Meninggalkan Oma sendirian.
Dimulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas kami selalu ada dalam satu sekolah. Kenapa ketika dibangku kuliah kami tidak berbarengan? Ya karena tadi dia berubah setelah kejadian itu. Kejadian yang mengubah semuanya. Kejadian yang nanti jika sudah waktunya aku akan ceritakan.
Seperti yang sudah kukatakan dia berubah semenjak hari itu. Hari dimana perasaan ganjil itu muncul begitu saja dalam hatiku. Tanpa aku inginkan. Saat itu aku belum bisa menyimpulkan perasaan itu. Aku tak tahu harus bagaiman mendeskripsikan perasaan itu. Dia berubah. Itu yang bisa aku simpulkan. Atau mungkin aku yang berubah. Entahlah
Kami memang masih selalu bersama, tapi waktu kebersamaan kami tersita banyak setelah kedatangan seseorang. Seseorang yang mengubah seluruh isi cerita ini. Cerita yang berbelok 180 derajat dari yang sebenarnya aku inginkan.
Ya dari sinilah kisah awal dari sebuah akhir dimulai.
Dy untuk Dyandra dan Di untuk Dinar.
Aku mengenal Dyandra semenjak aku masih kecil. Sejak bayi mungkin, atau masih dalam kandungan. Sejak kecil kami selalu bermain bersama, melakukan hal apapun bersama. Berdua saja. Sebelum pada akhirnya aku mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.
Rumah keluarga kami berdekatan, orangtua kami adalah seorang pebisnis. Mereka bekerjasama dalam membangun bisnis yang sudah dirintis Opa sejak dulu. Opa meninggal kecelakaan mobil ketika dalam perjalanan pulang setelah ada pertemuan dengan kolega bisnisnya. Meninggalkan Oma sendirian.
Dimulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas kami selalu ada dalam satu sekolah. Kenapa ketika dibangku kuliah kami tidak berbarengan? Ya karena tadi dia berubah setelah kejadian itu. Kejadian yang mengubah semuanya. Kejadian yang nanti jika sudah waktunya aku akan ceritakan.
Seperti yang sudah kukatakan dia berubah semenjak hari itu. Hari dimana perasaan ganjil itu muncul begitu saja dalam hatiku. Tanpa aku inginkan. Saat itu aku belum bisa menyimpulkan perasaan itu. Aku tak tahu harus bagaiman mendeskripsikan perasaan itu. Dia berubah. Itu yang bisa aku simpulkan. Atau mungkin aku yang berubah. Entahlah
Kami memang masih selalu bersama, tapi waktu kebersamaan kami tersita banyak setelah kedatangan seseorang. Seseorang yang mengubah seluruh isi cerita ini. Cerita yang berbelok 180 derajat dari yang sebenarnya aku inginkan.
Ya dari sinilah kisah awal dari sebuah akhir dimulai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar