Senin, 22 Juni 2015

Aura : Prolog

Langit malam itu terlihat cerah. Bintang-
gemintang terlihat bercahaya, awan-awan tak
tampak di atas sana. Rembulan seolah
tersenyum ketika kita memandangnya. Semilir
angin berhembus, pelan saja. Daun dan ranting
pohon seolah menari mengikuti arah angin.
Dingin.
Gadis itu terus melangkah di sepanjang trotoar.
Jalanan mulai sepi, karena ya ini sudah hampir
tengah malam. Jarum pendek menunjuk pada
angka sebelas dan jarum panjang menunjuk
angka delapan. Pukul sebelas lewat empat
puluh menit.
Ah, seandainya... Gadis itu mendesah.
Berharap.
Tak lama gadis itu berjalan, kornea matanya
menangkap sesosok tubuh membelakangi
dirinya. Sekitar jarak sepuluh meter di
depannya. Gadis itu memejamkan mata,
mengucek mata dengan kedua tangannya.
Ketika ia kembali melihat ke depan, sosok tadi
sudah tak ada di sana.
Bulu kuduknya mulai berdiri. Ia merasa ngeri.
Dan ketika ia hendak lanjut berjalan, tiba-tiba ia
merasa ada yang menepuk bahu kirinya.
Dengan memejamkan mata, ragu ia menoleh ke
belakang. Pelan-pelan ia membuka matanya.
Dan, astaga.
Nabil.
Sosok tubuh tadi kini ada di hadapannya, ia
mengenali sosok itu. Sosok yang akan menjadi
tokoh sentral dalam seluruh cerita ini.
Tangan kiri sosok (laki-laki) itu menjulurkan
tangan, berusaha menyambut tangan gadis otu.
Sementara tangan kanannya berusaha
menyembunyikan sesuatu di belakang
punggungnya.
Dan, ketika tangan kanan laki-laki itu ia
tampakkan, tangan itu menggenggam sekuntum
Mawar Putih. Itu bunga kesukaanku. Juga
kesukaan gadis itu tentunya.
"Maukah kau,....."
Belum sempat lelaki itu melanjutkan
kalimatnya. Sebuah kilat membuat terang
seluruh kota, awan-awan hitam menggantung di
atas sana, menutupi senyum ikhlas sang
rembulan disusul suara guntur menggelegar di
seantreo kota kami. Kemudian diikuti gemuruh
suara angin, dan terakhi langit mulai
memuntahkan apa yang sejak tadi ia tahan.
Tentara langit.
Mula-mula hanya satu-dua rintik air yang
berjatuhan, sepersekian detik kemudian langit
benar-benar menurunkan seluruh Bala
Tentaran-Nya.
"Aura!"
***
"Aura ayo bangun. Sudah waktunya sarapan.
Cepat nanti kesiangan, ini kan hari pertama
kamu masuk sekolah!" Teriak satu suara di luar
sana.
Ah sial. Bahkan dalam mimpi sekali pun, kau
tak mengatakan kalimat sederhana itu. Kalimat
yang banyak lelaki katakan kepada wanita yang
oa cintai. I Love You. Sederhana saja bukan?
Apa benar pepatah bilang 'Tak ada seaeorang
yang PHP di dunia ini, yang ada hanya kita saja
yang ke-GR-an. Sibuk mendeskripsikan
perasaan sendiri. Terlalu egois dengan
mengatakan bahwa dia juga mencintau kita.'
Ah sudahlah, aku sadar siapa aku. Dan siapa
dia.
Dan. Inilah kisahku

Dy(and)Ra Part II : Hanya aku, Dy dan Oma

Malam itu hujan kembali mengguyur kota kami. Ribuan rintiknya bergemercik di luar sana. Awalnya tidak terlalu deras. Hanya gerimis. Membuat pemandangan di luar sana terlihat indah. Apalagi melihat lampu taman yang terkena rintik hujan. Membuat pantulan yang sangat indah untuk dipandang. Tapi tidak lama kemudian, langit berubah menjadi hitam. Yang awalnya hanya gerimis, kini menjadi hujan yang amat deras.
"Kau sudah mengerjakan tugas Matematika yang diberikan Bu Christ?" Tatapanku beralih pada  buku-buku yang berserakan diatas meja belajar setelah cukup lama memperdebatkan tentang siapa yang paling duluan datang antara hujan atau awan? Begitulah kami, mempetdebatkan hal-hal sepele yang tidak terlalu penting jika kami sedang bersama. Mengisi waktu luang.
"Kau belum mengerjakannya, di?" Tanyanya pura-pura terkejut.
"Belum" jawabku seadanya.
"Astaga. Kau tahu bukan, Bu Chris itu guru killer. Jika kau tidak mengerjakan tugasnya bisa habis kau" dia menirukan gaya killer bu Christ. Guru matematika kami.
"Kau berlebihan sekali. Aku juga tahu. Makannya pinjami aku buku tugasmu. Biar aku nggak diterkam sama guru super killer itu."
"Baiklah. Tapi ingat jangan dijiplak sama persis. Kreatif sedikit, gunakan otakmu sekali-sekali" katanya sambil menyodorkan buku bersampul Hello Kitty kesukaannya.
"Ah. Kau ini namanya juga tugas matematika. Itukan ilmu pasti, ya jelas jawabannya pasti sama". Kelakku tak terima.
"Ya sudah. Terserah kau saja. Kalaupun ketahuan Bu Christ dia jelas pasti tahu siapa yang mencontek..." belum sempat ia melanjutkan kalimatnya aku buru-buru memotong kalimatnya.
"...dan siapa yang memberikan contekkan. Haha" lanjutku sambil tertawa.
"Terserah kau saja. Cepat keluar, aku mau tidur" cemberut. Menyuruhku untuk segera keluar.
"Gak mau aku temenin? Di luar hujan gede lho? Kamu kan suka takut?" Godaku.
"Keluar!!!" Teriaknya, dilanjutkan melemparkan bantal ke arahku. Dia sangat takut sekali akan hujan, semenjak kejadian itu. Kejadian yang menyakitkan bagi kami.
"Iya deh iya. Aku cuma becanda kok". Aku melangkah keluar, menutup pintu kamar Dyandra.
Di luar hujan masih cukup deras. Ketika melewati ruang tengah, aku mendapati Oma sedang melamun sendiri. Duduk di kursi goyang kesayangannya. 
"Oma? Sedang apa kau di situ? Sendirian?" Tanyaku. Berjalan mendekatinya.
"Ah, di. Tidak sayang. Oma hanya sedang bersantai saja" jawabnya. Aku melihat ada yang di sembunyikan dari Oma. Aku melihat sebuah kebohongan dari sorot mata dan juga kalimatnya yang seakan dibuat-buat.
"Oma tidak berbohong, kan?" selidikku.
"Kau tak percaya kepada Oma, sayang?"
"Tidak biasanya Oma duduk sendirian. Melamun?" tanyaku lagi. Sekarang aku sudah duduk di sofa dekat tempat kursi goyang yang diduduki Oma.
"Apa Oma terlihat aneh?" tanya Oma meyakinkanku bahwa tidak terjadi apa-apa dengannya.
"Tidak juga. Tapi..." aku berhenti melanjutkan kalimatku. Aku takut menyinggung perasaan Oma.
"Tapi apa sayang?" potong Oma.
"Ah, tidak Oma" tukasku.
"Katakan saja sayang"
Aku diam. Ragu untuk berkata. Bertanya.
"Tidak, Oma. Hanya saja aku melihat Oma berbeda malam ini. Oma sedang bersedih?" Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Bersedih? Apakah Oma terlihat bersedih?" Oma mengusap mata dengan jarinya.
"Begitulah" jawabku seadanya.
"Mendekatlah sayang" pinta Oma kepadaku. Aku mendekatinya. Membalikkan sofa agar menghadap kepada Oma. Kemudian aku duduk.
"Kau selalu tahu kalau ada yang beda dari orang di sekitarmu." Kata Oma "Begini. Kau tahu apa artinya kehilangan?" Tanya Oma. Aku menggeleng. Sebagai tanda jawaban. Tidak tahu, Oma. 
Itukan pertanyaan Oma 10 tahun lalu. Ketika umurku masih 6 tahun.
"Oma takut kehilangan kamu kalian, sayang. Kehilangan kamu. Kehilangan Dyandra" Oma menatapku. Satu bulir air, keluar dari kelopak matanya. Kemudian mengalir melewati pipi, hingga ke dagu. Kemudian jatuh. Menetes pada mantel yang dipakainya.
"Kenapa Oma berkata seperti itu? Aku tidak akan meninggalkan Oma. Begitupun Dyandra." Kataku.
"Tidak sayang. Kau akan pergi, begitupun Dyandra. Kalian akan melanjutkan sekolah bukan? Kalian tidak akan hanya diam disini setelah lulus sekolah. Kalian harus menggapai cita-cita kalian." Kata Oma. Masih menangis.
"Iya Oma. Aku tahu. Tapi aku dan Dyandra tidak akan meninggalkan Oma. Aku janji Oma." Kataku
"Dalam sebuah pilihan, terkadang kau harus egois sayang. Tidak memikirkan orang lain." Oma menyeka air matanya.
"Tapi kau bukan orang lain, kau Nenekku. Oma" kataku.
"Iya, sayang. Aku tahu tapi Kau harus berani mengambil keputusan. Berani meninggalkan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu." Kata Oma mantap.
Hujan di luar masih saja deras. Angin dan guntur juga masih setia menemani malam itu. Menemani percakapan kami. Aku dan Oma.
***

Dy(and)Ra: Awal dari Sebuah Akhir

"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanyaku, tatkala semua orang mulai membubarkan diri.
"Maksudmu?"
"Maksudku? Kau pura-pura tidak mengerti atau kau masih enggan untuk mengakuinya?"
"Aku tak paham!"
"Apa sekarang Kau menyesal?"
"Menyesal untuk apa?"
"Ya untuk semua ini. Untuk kematian Dy?"
"Apa maksudmu?"
"Kau masih juga bertanya apa maksudku?" aku kesal.
"Bukan aku kan yang membunuhnya, kan?"
"Kau! Kau memang bukan pembunuhnya. Tapi kau salah satu penyebab kematiannya!"
"Aku tak mengerti"
"Astaga. Kau masih juga belum mengerti?"
Dia hanya menggelengkan kepala. Menatap batu nisan di depannya.
"Sekali lagi aku bertanya. Apa sekarang kau menyesal?"
"Entahlah"
"Apa kau menyesal? Menjadi seorang pengecut. Hanya memendam perasaan itu dalam hatimu saja. Tanpa berani mengungkapkannya pada Dy. Bahkan pada detik terakhir kehidupannya kau tak juga mengatakannya? Ayolah akui saja kawan. Kau juga memendam rasa yang sama dengannya bukan? Kau juga sudah tahu bukan? Dy mencintaimu. Dy mengharapkanmu"
Dia hanya diam. Terpaku, tanpa bisa berkata apapun.
Aku menghela napas panjang.
Mengatur hembusan napas dan detak jantung yang tak beraturan. Juga emosiku yang tak bisa ku kontrol.
Aku menghembuskan napas secara perlahan.
***
Gerimis mulai menjajah kota kami.
Satu-persatu rintik hujan mulai berjatuhan. Mematuk tanah merah yang diselimuti rumput hijau.
Perlahan aku berjalan menjauhi sahabatku yang kini berada dekat sekali dengan sosok wanita yang selama ini dia cintai. Meski tak pernah dia mengatakan ataupun mengakuinya. Bahkan pada dirinya sendiri. Hingga saat ini, sosok wanita itu telah menjelma menjadi sebuah batu nisan. Ia tak pernah mau mengakuinya. Setidaknya mengakui perasaannya kepadaku. Wanita itu kini telah berada di tempat peristirahatan terakhirnya. Tempat paling indah.
Aku membiarkan dia sendirian di sana. Membiarkan dia menangisi penyesalan karena tak mampu mengungkapkan perasaan itu. Dia memelu erat batu nisan itu. Semua orang telah meninggalkan perkuburan itu. Kini hanya ada sosok sahabatku di sana. Setelah memandang sekilas wajahnya dari kejauhan, aku bisa menebak ada kesedihan yang mendalam dari dirinya. Kulihat itu dari garis wajahnya. Setelah merasa cukup, aku langsung meninggalkan perkuburan itu. Tempat peristirahatan terakhir bagi wanita itu. Juga tempat yang menjadi awal bagian dari seluruh kisah ini.
Aku memacu mobil cukup kencang, menerobos derasnya hujan yang disertai angin ribut di luar sana.
Sesampainya di rumah aku bergegas menuju kamar, kemudian merebahkan tubuhku di kasur. Aku menatap lekat langit-langit kamar. Pikiranku melayang entah kemana, di sana muncul bayangan-bayangan masa lalu itu. Sebuah tontonan yang entah darimana datangnya, tanpa aku minta mereka bergerak begitu saja. Layaknya sebuah infocus yang sedang memutar film.
Berawal dari kejadian tragis malam itu--malam yang merenggut nyawa seseorang yang amat special dalam kisah ini. Awal pertemuanku dengan sahabatku, hingga awal mula perasaan ganjil itu muncul dalam hatiku. Dalam hidupku.
Hujan semakin deras di luar sana.
***
"Kau sudah bangun, di?"
"Sudah, Oma" Kujawab pelan. Mengucek mata.
Hujan mulai mereda du luar sana. Hujan. Ya dia amat menyukai hujan, terlebih setelah dia mengenal pria itu. Biasanya ketika gerimis seperti ini dia selalu datang menemuiku, mengajakku bermain -- menikmati guyuran hujan. Kemudian dia melanjutkan bercerita yang ceritanya sudah persis aku hafal. Cerita tentang itu-itu saja. Cerita tentang orang yang sama. Seperti radio butut yang terus-menerus diputar .
Tapi itu dulu, sekarang tak mungkin dia datang kemari. Mengetuk pintu kamarku, kemudian menarik tanganku dan berlarian di halaman depan rumah. Seperti anak kecil saja.
Sekali lagi kubilang, itu dulu.
Gadis itu bernama Dyandra. Tapi dia sering dipanggil Dyan oleh kebanyakan temannya. Tapi aku lebih senang memanggilnya dengan sebutan Dy, saja. Karena panggilan Dy bagi lebih enak diucapkan, lebih enak didengar, lebih simple dan juga lebih,... ah pokoknya aku lebih senang dengan memanggilnya seperti itu. Selain karena alasan itu, aku juga mempunyai alasan lain. Alasan yang istimewa menurutku, ya karena nama panggilan itu terdengat sama dengan nama panggilanku, di. Dinar.
Dy untuk Dyandra dan Di untuk Dinar.
Aku mengenal Dyandra semenjak aku masih kecil. Sejak bayi mungkin, atau masih dalam kandungan. Sejak kecil kami selalu bermain bersama, melakukan hal apapun bersama. Berdua saja. Sebelum pada akhirnya aku mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.
Rumah keluarga kami berdekatan, orangtua kami adalah seorang pebisnis. Mereka bekerjasama dalam membangun bisnis yang sudah dirintis Opa sejak dulu. Opa meninggal kecelakaan mobil ketika dalam perjalanan pulang setelah ada pertemuan dengan kolega bisnisnya. Meninggalkan Oma sendirian. 
Dimulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas kami selalu ada dalam satu sekolah. Kenapa ketika dibangku kuliah kami tidak berbarengan? Ya karena tadi dia berubah setelah kejadian itu. Kejadian yang mengubah semuanya. Kejadian yang nanti jika sudah waktunya aku akan ceritakan.
Seperti yang sudah kukatakan dia berubah semenjak hari itu. Hari dimana perasaan ganjil itu muncul begitu saja dalam hatiku. Tanpa aku inginkan. Saat itu aku belum bisa menyimpulkan perasaan itu. Aku tak tahu harus bagaiman mendeskripsikan perasaan itu. Dia berubah. Itu yang bisa aku simpulkan. Atau mungkin aku yang berubah. Entahlah
Kami memang masih selalu bersama, tapi waktu kebersamaan kami tersita banyak setelah kedatangan seseorang. Seseorang yang mengubah seluruh isi cerita ini. Cerita yang berbelok 180 derajat dari yang sebenarnya aku inginkan.
Ya dari sinilah kisah awal dari sebuah akhir dimulai.

Dua Bocah di Bawah Pohon Oak

"Cinta. Aku tak tahu bagaimana ia bermula yang aku tahu ia mengalir begitu saja, hingga aku merasakan sesuatu yang berbeda darinya. Seperti kisah ini, kisah Kita. Entah bagaimana mulainya tapi yang pasti saat ini aku ingin selalu bergandengan tangan denganmu menyongsong masa depan gemilang dan berharap takdir Tuhan berpihak pada Kita"
***
1990
"Kau masih ingat dengan pohon oak itu? yang diantara batangnya yang kekar terpilin kuat sebuah tambang dengan kayu dibawahnya. Ya ayunan tua."
Pertemuan itu terjadi lewat tatapan dua pasang mata anak kecil berusia lima tahun. Di sebuah musim panas, yang dimana langit cerah tanpa awan dan angin berhembus dengan hangatnya.
Anak lelaki itu selalu menhgabiskan waktunya dengan menyendiri di bawah pohon oak, memainkan mainan robot pemberian ayahnya ketika dia brulang tahun yag kelima. Dua bulan lalu. Sang ayah juga membuatkan sebuah ayunan kayu yang terikat kuat diantara batang pohon oak tersebut.
Anak lelaki itu gemar duduk di sana. Memainkan mainan robot miliknya, ia kerap berbicara sendiri tanpa teman, menirukan suara bagaimana robot miliknya sedang dalam medan perang. Selalu seperti itu Sendirian.
Ia tak mempunyai saudara kandung ataupun saudara angkat, ia anak satu-satunya dari pasangan muda yang baru saja menikah enam tahun lalu. Awalnya mereka tinggal di rumah orang tua lelaki, tapi kemudian memutuskan pindah ke rumah itu. Anak lelaki itu selalu bermain sendirian, tanpa teman. Selain sang ayah yang selalu berangkat pagi untuk bekerja di sebuah toko, sang ibu juga sibuk mengurusi rumah sendirian. Jarang sekali ada waktu untuk menemani anaknya. Kecuali jika ada acara-acara tertentu. Ketika acara natal ataupun perayaan lain. Atau ketika orang tua anak lelak itu mengajak ke rumah kerabat mereka. Barulah anak lelaki itu bisa bermain dengan sepupu sebayanya. Tapi itu tak membuat ia senang, ia lebih senang menyendiri. Baginya teman adalah seseorang yang mampu mengerti perasaannya, seseorang yang benar-benar bisa satu fikiran dengannya. Sayangnya dia belum meneukannya hingga saat itu.
Pagi itu, ketika pertemuan itu terjadi. Di musim panas yang sama, si anak lelaki melihat sebuah mobil berwarna hitam dengan bak terbuka yang di penuhi barang-barang, berhenti tepat di sebelah rumahnya.
Rumah yang sudah sekitar lima tahun tak berpenghuni, entah kemana perginya penghuni rumah tersebut. Banyak orang bilang penghuni rumah itu dulunya terkena tipu oleh temannya sendiri, segala kekayaannya habis. Hingga akhirnya pemilik rumah itu menjual rumah tersebut. Rumah berdinding kayu yang kini terlihat tua, dengan cat yang sudah pudar dan tangga masuk yang mulai keropos.
Seorang lelaki berusia tiga puluhan keluar dari mobil tersebut, diikuti wanita anggun yang kini sudah berada di sampingnya. Mereka menatap rumah itu sejenak kemudian menyuruh dua orang --mungkin pekerjanya untuk menurunkan barang-barang dan memasukannya ke dalam rumah tersebut.
Wanita itu kembali menghampiri mobil, menatap sejenak -- seolah sedang berbicara melalui tatapan mata-- ke dalam mobil melalui jendela. Tersenyum. Saat itulah, ketika wanita itu mengulurkan kedua tangannyanya. Dan menggendong seorang anak perempuan. Saat itulah tatapan keduanya beradu--si anak peremluan terlihat malu-malu. Dan mungkin saat itulah kisah anak lelaki penyendiri dan si anak perempuan pemalu bermula.
**
Rasanya tidak mungkin keduan anak tersebut bisa berteman, karena ketika si anak lelaki sedang asyik memainkan mainan robot di tangannya, si anak perempuan dengan boneka barbie di tangannya malu-malu menghampiri si anak lelaki. Mereka berdua duduk bersebelahan. Sibuk memainkan mainanya masing-masing. Tanpa interaksi. Tak muungkin si anak lelaki memainkan boneka barbie, selain yang dia punya hanya mainan robot itu, tak mungkin juga ia merengek pada ayahnya untuk dibelikan boneka barbie hanya untuk bermain dengan si anak perempuan. Begitupun sebaliknya, si anak perempuan tak mempunyai mainan robot dan tak suka juga adegan perang-perangan. Walaupun tanpa interaksi secara langsung, mereka berdua tampak senang dengan dunianya masing-masing. Ya karena begitulah seharusnya pertemanan, seseorang tak perlu menyenangi apa yang disenangi seorang lainnya. Mereka mulai bisa saling berinteraksi, saling berbagi dan mengisi.
Ternyata mereka benar-benar bisa berteman. Pertemanan yang sederhana.
*Bersambung