"Cinta. Aku tak tahu bagaimana ia bermula yang aku tahu ia mengalir begitu saja, hingga aku merasakan sesuatu yang berbeda darinya. Seperti kisah ini, kisah Kita. Entah bagaimana mulainya tapi yang pasti saat ini aku ingin selalu bergandengan tangan denganmu menyongsong masa depan gemilang dan berharap takdir Tuhan berpihak pada Kita"
***
1990
"Kau masih ingat dengan pohon oak itu? yang diantara batangnya yang kekar terpilin kuat sebuah tambang dengan kayu dibawahnya. Ya ayunan tua."
***
1990
"Kau masih ingat dengan pohon oak itu? yang diantara batangnya yang kekar terpilin kuat sebuah tambang dengan kayu dibawahnya. Ya ayunan tua."
Pertemuan itu terjadi lewat tatapan dua pasang mata anak kecil berusia lima tahun. Di sebuah musim panas, yang dimana langit cerah tanpa awan dan angin berhembus dengan hangatnya.
Anak lelaki itu selalu menhgabiskan waktunya dengan menyendiri di bawah pohon oak, memainkan mainan robot pemberian ayahnya ketika dia brulang tahun yag kelima. Dua bulan lalu. Sang ayah juga membuatkan sebuah ayunan kayu yang terikat kuat diantara batang pohon oak tersebut.
Anak lelaki itu gemar duduk di sana. Memainkan mainan robot miliknya, ia kerap berbicara sendiri tanpa teman, menirukan suara bagaimana robot miliknya sedang dalam medan perang. Selalu seperti itu Sendirian.
Ia tak mempunyai saudara kandung ataupun saudara angkat, ia anak satu-satunya dari pasangan muda yang baru saja menikah enam tahun lalu. Awalnya mereka tinggal di rumah orang tua lelaki, tapi kemudian memutuskan pindah ke rumah itu. Anak lelaki itu selalu bermain sendirian, tanpa teman. Selain sang ayah yang selalu berangkat pagi untuk bekerja di sebuah toko, sang ibu juga sibuk mengurusi rumah sendirian. Jarang sekali ada waktu untuk menemani anaknya. Kecuali jika ada acara-acara tertentu. Ketika acara natal ataupun perayaan lain. Atau ketika orang tua anak lelak itu mengajak ke rumah kerabat mereka. Barulah anak lelaki itu bisa bermain dengan sepupu sebayanya. Tapi itu tak membuat ia senang, ia lebih senang menyendiri. Baginya teman adalah seseorang yang mampu mengerti perasaannya, seseorang yang benar-benar bisa satu fikiran dengannya. Sayangnya dia belum meneukannya hingga saat itu.
Pagi itu, ketika pertemuan itu terjadi. Di musim panas yang sama, si anak lelaki melihat sebuah mobil berwarna hitam dengan bak terbuka yang di penuhi barang-barang, berhenti tepat di sebelah rumahnya.
Rumah yang sudah sekitar lima tahun tak berpenghuni, entah kemana perginya penghuni rumah tersebut. Banyak orang bilang penghuni rumah itu dulunya terkena tipu oleh temannya sendiri, segala kekayaannya habis. Hingga akhirnya pemilik rumah itu menjual rumah tersebut. Rumah berdinding kayu yang kini terlihat tua, dengan cat yang sudah pudar dan tangga masuk yang mulai keropos.
Seorang lelaki berusia tiga puluhan keluar dari mobil tersebut, diikuti wanita anggun yang kini sudah berada di sampingnya. Mereka menatap rumah itu sejenak kemudian menyuruh dua orang --mungkin pekerjanya untuk menurunkan barang-barang dan memasukannya ke dalam rumah tersebut.
Wanita itu kembali menghampiri mobil, menatap sejenak -- seolah sedang berbicara melalui tatapan mata-- ke dalam mobil melalui jendela. Tersenyum. Saat itulah, ketika wanita itu mengulurkan kedua tangannyanya. Dan menggendong seorang anak perempuan. Saat itulah tatapan keduanya beradu--si anak peremluan terlihat malu-malu. Dan mungkin saat itulah kisah anak lelaki penyendiri dan si anak perempuan pemalu bermula.
**
Rasanya tidak mungkin keduan anak tersebut bisa berteman, karena ketika si anak lelaki sedang asyik memainkan mainan robot di tangannya, si anak perempuan dengan boneka barbie di tangannya malu-malu menghampiri si anak lelaki. Mereka berdua duduk bersebelahan. Sibuk memainkan mainanya masing-masing. Tanpa interaksi. Tak muungkin si anak lelaki memainkan boneka barbie, selain yang dia punya hanya mainan robot itu, tak mungkin juga ia merengek pada ayahnya untuk dibelikan boneka barbie hanya untuk bermain dengan si anak perempuan. Begitupun sebaliknya, si anak perempuan tak mempunyai mainan robot dan tak suka juga adegan perang-perangan. Walaupun tanpa interaksi secara langsung, mereka berdua tampak senang dengan dunianya masing-masing. Ya karena begitulah seharusnya pertemanan, seseorang tak perlu menyenangi apa yang disenangi seorang lainnya. Mereka mulai bisa saling berinteraksi, saling berbagi dan mengisi.
Ternyata mereka benar-benar bisa berteman. Pertemanan yang sederhana.
*Bersambung
Anak lelaki itu selalu menhgabiskan waktunya dengan menyendiri di bawah pohon oak, memainkan mainan robot pemberian ayahnya ketika dia brulang tahun yag kelima. Dua bulan lalu. Sang ayah juga membuatkan sebuah ayunan kayu yang terikat kuat diantara batang pohon oak tersebut.
Anak lelaki itu gemar duduk di sana. Memainkan mainan robot miliknya, ia kerap berbicara sendiri tanpa teman, menirukan suara bagaimana robot miliknya sedang dalam medan perang. Selalu seperti itu Sendirian.
Ia tak mempunyai saudara kandung ataupun saudara angkat, ia anak satu-satunya dari pasangan muda yang baru saja menikah enam tahun lalu. Awalnya mereka tinggal di rumah orang tua lelaki, tapi kemudian memutuskan pindah ke rumah itu. Anak lelaki itu selalu bermain sendirian, tanpa teman. Selain sang ayah yang selalu berangkat pagi untuk bekerja di sebuah toko, sang ibu juga sibuk mengurusi rumah sendirian. Jarang sekali ada waktu untuk menemani anaknya. Kecuali jika ada acara-acara tertentu. Ketika acara natal ataupun perayaan lain. Atau ketika orang tua anak lelak itu mengajak ke rumah kerabat mereka. Barulah anak lelaki itu bisa bermain dengan sepupu sebayanya. Tapi itu tak membuat ia senang, ia lebih senang menyendiri. Baginya teman adalah seseorang yang mampu mengerti perasaannya, seseorang yang benar-benar bisa satu fikiran dengannya. Sayangnya dia belum meneukannya hingga saat itu.
Pagi itu, ketika pertemuan itu terjadi. Di musim panas yang sama, si anak lelaki melihat sebuah mobil berwarna hitam dengan bak terbuka yang di penuhi barang-barang, berhenti tepat di sebelah rumahnya.
Rumah yang sudah sekitar lima tahun tak berpenghuni, entah kemana perginya penghuni rumah tersebut. Banyak orang bilang penghuni rumah itu dulunya terkena tipu oleh temannya sendiri, segala kekayaannya habis. Hingga akhirnya pemilik rumah itu menjual rumah tersebut. Rumah berdinding kayu yang kini terlihat tua, dengan cat yang sudah pudar dan tangga masuk yang mulai keropos.
Seorang lelaki berusia tiga puluhan keluar dari mobil tersebut, diikuti wanita anggun yang kini sudah berada di sampingnya. Mereka menatap rumah itu sejenak kemudian menyuruh dua orang --mungkin pekerjanya untuk menurunkan barang-barang dan memasukannya ke dalam rumah tersebut.
Wanita itu kembali menghampiri mobil, menatap sejenak -- seolah sedang berbicara melalui tatapan mata-- ke dalam mobil melalui jendela. Tersenyum. Saat itulah, ketika wanita itu mengulurkan kedua tangannyanya. Dan menggendong seorang anak perempuan. Saat itulah tatapan keduanya beradu--si anak peremluan terlihat malu-malu. Dan mungkin saat itulah kisah anak lelaki penyendiri dan si anak perempuan pemalu bermula.
**
Rasanya tidak mungkin keduan anak tersebut bisa berteman, karena ketika si anak lelaki sedang asyik memainkan mainan robot di tangannya, si anak perempuan dengan boneka barbie di tangannya malu-malu menghampiri si anak lelaki. Mereka berdua duduk bersebelahan. Sibuk memainkan mainanya masing-masing. Tanpa interaksi. Tak muungkin si anak lelaki memainkan boneka barbie, selain yang dia punya hanya mainan robot itu, tak mungkin juga ia merengek pada ayahnya untuk dibelikan boneka barbie hanya untuk bermain dengan si anak perempuan. Begitupun sebaliknya, si anak perempuan tak mempunyai mainan robot dan tak suka juga adegan perang-perangan. Walaupun tanpa interaksi secara langsung, mereka berdua tampak senang dengan dunianya masing-masing. Ya karena begitulah seharusnya pertemanan, seseorang tak perlu menyenangi apa yang disenangi seorang lainnya. Mereka mulai bisa saling berinteraksi, saling berbagi dan mengisi.
Ternyata mereka benar-benar bisa berteman. Pertemanan yang sederhana.
*Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar