Malam itu hujan kembali mengguyur kota kami. Ribuan rintiknya bergemercik di luar sana. Awalnya tidak terlalu deras. Hanya gerimis. Membuat pemandangan di luar sana terlihat indah. Apalagi melihat lampu taman yang terkena rintik hujan. Membuat pantulan yang sangat indah untuk dipandang. Tapi tidak lama kemudian, langit berubah menjadi hitam. Yang awalnya hanya gerimis, kini menjadi hujan yang amat deras.
"Kau sudah mengerjakan tugas Matematika yang diberikan Bu Christ?" Tatapanku beralih pada buku-buku yang berserakan diatas meja belajar setelah cukup lama memperdebatkan tentang siapa yang paling duluan datang antara hujan atau awan? Begitulah kami, mempetdebatkan hal-hal sepele yang tidak terlalu penting jika kami sedang bersama. Mengisi waktu luang.
"Kau belum mengerjakannya, di?" Tanyanya pura-pura terkejut.
"Belum" jawabku seadanya.
"Astaga. Kau tahu bukan, Bu Chris itu guru killer. Jika kau tidak mengerjakan tugasnya bisa habis kau" dia menirukan gaya killer bu Christ. Guru matematika kami.
"Kau berlebihan sekali. Aku juga tahu. Makannya pinjami aku buku tugasmu. Biar aku nggak diterkam sama guru super killer itu."
"Baiklah. Tapi ingat jangan dijiplak sama persis. Kreatif sedikit, gunakan otakmu sekali-sekali" katanya sambil menyodorkan buku bersampul Hello Kitty kesukaannya.
"Ah. Kau ini namanya juga tugas matematika. Itukan ilmu pasti, ya jelas jawabannya pasti sama". Kelakku tak terima.
"Ya sudah. Terserah kau saja. Kalaupun ketahuan Bu Christ dia jelas pasti tahu siapa yang mencontek..." belum sempat ia melanjutkan kalimatnya aku buru-buru memotong kalimatnya.
"...dan siapa yang memberikan contekkan. Haha" lanjutku sambil tertawa.
"Terserah kau saja. Cepat keluar, aku mau tidur" cemberut. Menyuruhku untuk segera keluar.
"Gak mau aku temenin? Di luar hujan gede lho? Kamu kan suka takut?" Godaku.
"Keluar!!!" Teriaknya, dilanjutkan melemparkan bantal ke arahku. Dia sangat takut sekali akan hujan, semenjak kejadian itu. Kejadian yang menyakitkan bagi kami.
"Iya deh iya. Aku cuma becanda kok". Aku melangkah keluar, menutup pintu kamar Dyandra.
Di luar hujan masih cukup deras. Ketika melewati ruang tengah, aku mendapati Oma sedang melamun sendiri. Duduk di kursi goyang kesayangannya.
"Oma? Sedang apa kau di situ? Sendirian?" Tanyaku. Berjalan mendekatinya.
"Oma? Sedang apa kau di situ? Sendirian?" Tanyaku. Berjalan mendekatinya.
"Ah, di. Tidak sayang. Oma hanya sedang bersantai saja" jawabnya. Aku melihat ada yang di sembunyikan dari Oma. Aku melihat sebuah kebohongan dari sorot mata dan juga kalimatnya yang seakan dibuat-buat.
"Oma tidak berbohong, kan?" selidikku.
"Kau tak percaya kepada Oma, sayang?"
"Tidak biasanya Oma duduk sendirian. Melamun?" tanyaku lagi. Sekarang aku sudah duduk di sofa dekat tempat kursi goyang yang diduduki Oma.
"Tidak biasanya Oma duduk sendirian. Melamun?" tanyaku lagi. Sekarang aku sudah duduk di sofa dekat tempat kursi goyang yang diduduki Oma.
"Apa Oma terlihat aneh?" tanya Oma meyakinkanku bahwa tidak terjadi apa-apa dengannya.
"Tidak juga. Tapi..." aku berhenti melanjutkan kalimatku. Aku takut menyinggung perasaan Oma.
"Tapi apa sayang?" potong Oma.
"Ah, tidak Oma" tukasku.
"Katakan saja sayang"
Aku diam. Ragu untuk berkata. Bertanya.
"Tidak, Oma. Hanya saja aku melihat Oma berbeda malam ini. Oma sedang bersedih?" Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Bersedih? Apakah Oma terlihat bersedih?" Oma mengusap mata dengan jarinya.
"Begitulah" jawabku seadanya.
"Mendekatlah sayang" pinta Oma kepadaku. Aku mendekatinya. Membalikkan sofa agar menghadap kepada Oma. Kemudian aku duduk.
"Kau selalu tahu kalau ada yang beda dari orang di sekitarmu." Kata Oma "Begini. Kau tahu apa artinya kehilangan?" Tanya Oma. Aku menggeleng. Sebagai tanda jawaban. Tidak tahu, Oma.
Itukan pertanyaan Oma 10 tahun lalu. Ketika umurku masih 6 tahun.
Itukan pertanyaan Oma 10 tahun lalu. Ketika umurku masih 6 tahun.
"Oma takut kehilangan kamu kalian, sayang. Kehilangan kamu. Kehilangan Dyandra" Oma menatapku. Satu bulir air, keluar dari kelopak matanya. Kemudian mengalir melewati pipi, hingga ke dagu. Kemudian jatuh. Menetes pada mantel yang dipakainya.
"Kenapa Oma berkata seperti itu? Aku tidak akan meninggalkan Oma. Begitupun Dyandra." Kataku.
"Tidak sayang. Kau akan pergi, begitupun Dyandra. Kalian akan melanjutkan sekolah bukan? Kalian tidak akan hanya diam disini setelah lulus sekolah. Kalian harus menggapai cita-cita kalian." Kata Oma. Masih menangis.
"Iya Oma. Aku tahu. Tapi aku dan Dyandra tidak akan meninggalkan Oma. Aku janji Oma." Kataku
"Dalam sebuah pilihan, terkadang kau harus egois sayang. Tidak memikirkan orang lain." Oma menyeka air matanya.
"Tapi kau bukan orang lain, kau Nenekku. Oma" kataku.
"Iya, sayang. Aku tahu tapi Kau harus berani mengambil keputusan. Berani meninggalkan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu." Kata Oma mantap.
Hujan di luar masih saja deras. Angin dan guntur juga masih setia menemani malam itu. Menemani percakapan kami. Aku dan Oma.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar